Dalam hidup ini, kita selalu diperhadapkan pada berbagai pilihan. Contoh sederhananya, 3 hari yang lalu Pak Guru ngumumin kalau besok pagi jam pertama, ada ulangan matematika. Masalahnya tiap hari kok ya ada ulangan mata pelajaran tu lhoo… jadi nggak sempet deh belajar matematika. Eh nggak disangka-sangka, Bu Guru juga ngumumin kalau ulangan fisika diajuin besok pas jam pelajaran terakhir, 2 bab sekaligus!! Karena selama semester ini belum sempet diadakan ulangan. Nah, reaksi kamu gimana?
a. Pingsan mendadak!! Pas udah siuman langsung uring-uringan: “Gilaaa… Gurunya ga ada belas kasihan banget sih. Ini kan lagi musim duren pak, jangan digusur sama musim ulangan dooong…” Grrrrrr
b. Pulang sekolah langsung mampir ke gamenet dulu ah, habis itu pasti jadi semangat belajarnya… Atau ke warnet aja ya, buka-buka FB, siapa tau anak kelas sebelah ada yang udah ulangan matematika/fisika, trus soal-soalnya di-update lewat status wkwkwk.
c. Belajar Fisika aja dulu ah.. Lebih penting, langsung 2 bab niih… gapapa lah kalau nilai matematikanya nggak gitu bagus, besok ngikut remidiasi aja (moga-moga ada hehehe)
d. Belajar Matematika aja deh mendingan, lebih njlimet, gurunya killer pula, otomatis nggak bisa nyontek temen… Kalo fisika kan masih ada kesempatan belajar habis ulangan matematika ajalah, kalo perlu nggak usah dengerin pelajaran yg lain dulu, konsen belajar fisika!!!
e. Pulang sekolah langsung ngurung diri di kamar, belajar habis-habisan buat 2 mata pelajaran itu, kalo perlu begadang sampai lumutan… eh sampai pagi. Ganbatte!!
f. Apa daya…. berpasrah diri seraya memanjatkan doa, semoga ulangan besok dibatalkan. “Yang dibatalin yang Matematika atau Fisika, Tuhan? Dua-duanya aja boleh? Tuhan kan baik hehehe…”
g. Jurus Andalan: Pura-pura sakit, nggak masuk sekolah, trus belajar seharian, biar besok bisa ikut ulangan susulan di hari yang berbeda ;p
Well, ada banyak ya pilihannya, bahkan sebetulnya masih ada banyak banget pilihan selain 7 opsi di atas. Lalu mana yang akan kita pilih??

Itu baru masalah ngadepin ulangan yang bentrok di hari yg bersamaan yak, pusingnya minta ampun hehehe. Belum ditambah masalah mau pake baju warna apa pas ke persekutuan, masalah makan apa nanti siang padahal uang saku udah dipake fotokopi catetan, masalah pergi sama siapa malam minggu besok, atau masalah mau pake sepatu balet apa sepatu pantofel ya pas piknik ke kebun binatang bulan depan?? Life is full of choices. Choose carefully… (kayak tweetnya PSKK di Twitter hihihi).
Setiap hari kita tanpa kita sadari kita telah memilih, mulai dari memilih untuk bangun pagi dan kenapa ga bangun siang aja sih? Atau memilih berangkat ke sekolah daripada bolos? Memilih untuk lewat jalan yg biasa kita lalui daripada memilih jalan baru pas berangkat ke sekolah. Memilih untuk membiarkan pikiran kita melayang-melayang ke luar sana saat pelajaran Bahasa Inggris, sampai ga sadar penghapus pun udah melayang ke kepala kita!! Dan seterusnya…
Kita semua pasti pernah memilih dan mengambil keputusan. Setiap kita berhasil mengambil suatu keputusan yang besar, pasti berikutnya Tuhan akan bawa kita mengambil keputusan yang lebih besar lagi, dan lagi. Tapi Tuhan ga pernah memaksa kita untuk memilih yang sesuai dengan pilihan-Nya. It’s just up to you. Namun sebagai anak-anak Tuhan, kita percaya kan kalau Tuhan lebih tahu pilihan yang terbaik buat kita?
Kadang Tuhan langsung jawab pas kita tanya. Tapi kadang Tuhan juga punya cara lain untuk menjawab kita lhoo. Jangan batasi Tuhan dengan cara-cara kita: Kalau aku tanya, langsung dijawab lho Tuhan! (Woii… kok kamu jadi ngebosin Tuhan sih wkwkwkwk)
Aku pernah bergumul tentang suatu tawaran pekerjaan yang cukup menggiurkan padahal aku sudah bekerja dengan mapan di suatu perusahaan. Pekerjaan itu amat sangat kunanti-nantikan, karena setiap kali aku melamar pekerjaan baru dan lolos seleksi, Tuhan bilang: “Bukan yang itu, nak”.
Perusahaan yang kulamar ini mengharuskan aku mengikuti rangkaian tahap seleksi yang cukup ketat dan melelahkan selama 3,5 bulan. Setiap lolos dari tahap satu dan dilanjutkan ke tahap berikutnya, aku selalu bertanya: “Tuhan mau aku kerja disana nggak?” Mungkin Tuhan sudah menjawabku, tapi akunya yang nggak denger hehehe. Jadi setiap kali aku lolos seleksi, aku pikir Tuhan setuju. “Yak, maju teruuus!” langkahku mantap.
Hingga akhirnya sesuatu yang tak terduga terjadi juga, aku diperhadapkan pada 2 pilihan penting: Memilih bekerja di perusahaan lama atau di perusahaan baru? Di perusahaan lama aku mendapat promosi yang cukup baik. Di sisi lain aku pun termasuk dalam 9 orang (dari 119 pelamar) yang diterima sebagai calon karyawan di perusahaan baru. Di perusahaan lama ada masalah pribadi yang mendorongku untuk resign. Di perusahaan baru, bidang pekerjaannya jauh berbeda dan lebih complicated, otomatis harus belajar dan berusaha lebih keras lagi. Pilihan yang tidak mudah.
Takut salah mengambil keputusan, cuma itu yang ada di benakku. Tapi, terlalu lama mengambil keputusan juga tidak lebih baik. Aku sudah berdoa, tapi tidak tahu harus bagaimana (pernah mengalami hal seperti ini jugakah? hehehe). Saat final interview pun tiba, pilih mana perusahaan lama atau perusahaan baru. Aku berangkat dengan perasaan campur aduk, pikiran berkecamuk, keluarga berkasak-kusuk (halaaaah… wkwkwk). “Tuhan aku tidak tahu harus bagaimana. Engkau tahu segala pertimbanganku. Aku hanya mau memilih yang sesuai dengan kehendak-Mu, jadi tolong sertailah aku,” bisikku dalam hati.
Dan di saat aku berani melangkahkan kakiku, bergerak maju mengambil keputusan, aku tahu Tuhan bersamaku dan memimpin setiap jawaban yang keluar dari mulutku. Aku menolak pekerjaan yang baru. Aku pikir aku akan sangat sedih, merasa bersalah, dan menyesal telah melewatkan kesempatan ini. Tapi sebaliknya, aku justru merasa damai sejahtera yang luar biasa. Bahkan, Kepala HRD di perusahaan itu, sama sekali nggak mempermasalahkan pilihanku, nggak ngotot memintaku untuk pikir-pikir lagi, atau emosi karena aku sudah menolak kesempatan yang bagi mereka sangat berharga. Beliau malah bilang senang sekali ngobrol denganku, dan menyarankan hal lain untuk masa depanku, meskipun ada sesal tapi dia menghargai keputusanku. Pembicaraan pun berjalan sangat hangat dan menyenangkan. Aku pulang dan sambil tersenyum, berkata pada Tuhan, “Aku telah melepaskan sesuatu untuk mendapatkan yang terbaik dari-Mu, amin.”

Jadi saudaraku, beranilah melangkah, mengambil keputusan. Berdoalah meminta Tuhan yang memimpinmu, sehingga ketika langkahmu dalam mengambil keputusan itu keliru, Dia bisa segera mengoreksi langkahmu dan menunjukkan kemana kakimu seharusnya melangkah. Ketika kita takut untuk melangkah, kita menunda bekerjasama dengan-Nya.
“Hidup yang kupilih, membuatku berarti… Karena Yesus Tuhan, tempatku percaya dan berharap.” (Yesus, Kaulah Sahabatku – True Worshippers)